Dalam momentum strategis Sidang Paripurna Majelis Senat Akademik PTN-Badan Hukum pada 13-15 November 2025, Senat Akademik Universitas Gadjah Mada berperan aktif mendorong akselerasi mutu perguruan tinggi melalui akreditasi nasional dan internasional. Universitas Sriwijaya (UNSRI) sebagai tuan rumah menyelenggarakan sidang paripurna di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang. Pertemuan dihadiri oleh delegasi dari 24 PTN-BH di seluruh Indonesia, menjadikan agenda ini sebagai forum penting bagi konsolidasi akademik tingkat nasional.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut perguruan tinggi di Indonesia memiliki standar mutu yang terukur agar mampu bersaing di tingkat global. Akreditasi, baik nasional melalui BAN-PT dan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) maupun internasional melalui lembaga berstandar global, menjadi instrumen utama dalam upaya memastikan mutu institusi dan program studi. Namun implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya, kesiapan dokumen mutu, hingga pemahaman yang belum merata di seluruh pemangku kepentingan. Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan antara harapan terhadap akreditasi sebagai motor penggerak mutu dan realita pelaksanaannya di lapangan.
Ketua MSA PTN-BH, Prof. Dr. dr. Yoni F. Syukriani, Sp.FM. Subsp. SBM(K), M.Si., DFM, membuka sidang paripurna secara resmi dengan pemukulan gong, disusul prosesi penghormatan berupa pemasangan tanjak Palembang kepada para Ketua Senat Akademik PTN-BH. Tanjak sendiri merupakan simbol yang melambangkan kehormatan, kebersamaan, dan persaudaraan akademik di antara pimpinan senat seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. dr. Yoni F. Syukriani, Sp.FM. Subsp. SBM(K), M.Si., DFM menyoroti pentingnya melakukan peninjauan efektivitas akreditasi internasional dalam meningkatkan reputasi universitas. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan studi tahun 2019, keberhasilan akreditasi internasional dalam meningkatkan reputasi global universitas di negara berkembang termasuk Indonesia masih terbilang rendah, meski upaya dan biaya yang dikeluarkan sangat besar. Ia menilai perlu ada evaluasi mendalam agar akreditasi benar-benar memberikan dampak signifikan bagi reputasi internasional dan daya saing lulusan.
Rektor UNSRI, Prof. Dr. Taufiq Marwa, S.E., M.Si. menjelaskan bahwa sidang paripurna kali ini berfokus pada aspek akademik yang berkaitan dengan peningkatan mutu, termasuk sistem penjaminan mutu internal dan eksternal yang menjadi fondasi bagi pencapaian akreditasi unggul. Menurutnya, akreditasi merupakan pilar penting untuk memastikan perguruan tinggi agar mampu bersaing di tingkat global. Ia menegaskan bahwa sidang paripurna ini relevan dengan agenda besar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terkait peningkatan akses pendidikan tinggi yang berkualitas, berdampak, dan berdaya saing global.
Sidang paripurna kali ini menghadirkan sejumlah narasumber strategis. Para narasumber memberikan pemaparan mengenai arah kebijakan akreditasi nasional dan internasional, strategi akselerasi mutu, serta peran penting PTN-BH dalam mendorong ketahanan nasional berbasis riset dan inovasi. Selain membahas isu akademik strategis, sidang paripurna menjadi momentum penting dengan dilaksanakannya serah terima jabatan Ketua MSA PTN-BH dari Prof. Dr. dr. Yoni F. Syukriani, Sp.FM. Subsp. SBM(K), M.Si., DFM kepada Ketua terpilih periode 2025–2026, Prof. Dr. Syafrizal Sy. Prosesi ini menegaskan keberlanjutan kepemimpinan dalam tubuh MSA PTN-BH sebagai bagian dari komitmen penguatan tata kelola pendidikan tinggi nasional.
Melalui seluruh rangkaian kegiatan selama tiga hari tersebut, sidang paripurna ini diharapkan menghasilkan rumusan kebijakan strategis yang dapat direkomendasikan kepada kementerian dan lembaga terkait, termasuk BAN-PT dan LAM, agar proses peningkatan mutu perguruan tinggi dapat berlangsung lebih efektif, adaptif, dan berdaya saing global. UNSRI sebagai tuan rumah menutup kegiatan dengan harapan forum ini akan memberikan manfaat besar bagi seluruh PTN-BH dan memperkuat reputasi Indonesia dalam peta pendidikan tinggi internasional.
Red: Rofiatul Azizah
